Tampilkan postingan dengan label Komentator Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komentator Bebas. Tampilkan semua postingan

Ini Sambal

 Itu dia yang aku berinama sambal, bukan terbuat dari cabai juga tidak pedas, dia sekarang masih berada dalam dunia imajiner, seperti vitamin yang dengan sendirinya menambah semangat hidup, bukan berarti aku sudah tidak bersemangat hanya sedikit jenuh dengan rutinitas.

Mungkin Tuhan sudah merencanakanya lewat sambal yang datang secara tiba-tiba untuk lebih bersemangat. Atau mungkin saja untuk sebentar, sampai aku mulai senang lagi lalu dia pergi lagi.

Sambal apakah kau tahu aku ini siapa? sehingga kau dengan senang hati atau mungkin terpaksa datang untuk menghiburku. semata-mata untuk kepentingan hidupku ah kau membuatku bingung saja, sebenarnya kau ini siapa sih? makhluk luar angkasakah? mata-mata Vietnamkah?atau jaringan al-kaidah?

ah terlalu jauh, sudahlah sampai sini saja dulu nanti aku cari tahu dulu biar bisa aku ceritakan lagi disini, untuk bisa di posting memenuhi blog. Biar si pencetus blog senang karena karyanya dipakai oleh aku yang keren aku mau ngantuk dulu biar tidur, nanti aku lanjutkan lagi ceritanya.

 Bersambung...

Cerita hari Jum'at

 
Beberapa hari kebelakang beberapa media massa elektronik maupun cetak banyak memberitakan tentang pembuhunan balita atau anak kecil, dari mulai yang di culik kemudian di bunuh sampaiyang terakhir saya lihat ada anak kecil yang di "cor" atau dikubur hidup-hidup dengan semen dan pasir, sadis memang sadis tapi melihat latarbelakang para tersangka saya jadi faham, bahwa beberapa orang diluar sana nekat melakukan hal yang sangat tidak manusiawi itu didasari oleh hal yang jelas, jelas menurut mereka, bisa berawal dari sakit hati sampai keterdesakan ekonomi. Begitupun dengan saya, tadi siang saat saya melaksanakan ibadah sholat jum'at, beberapa orang tua menyertakan buah hatinya yang laki-laki untuk ikut sholat jum'at, dengan tujuan mengenalkan kepada anak-anaknya sedini mungkin tentang wajibnya sholat jum'at bagi laki-laki. 

Namun apa jadinya apabila si anak tidak di berikan pemahaman terlebih dahulu tentang sholat jum'at? Dan bagaimana jadinya apabila anak-anak bertemu dengan teman sebaya nya?? Sudah pasti mereka akan bermain, karena memang itu tugas mereka selagi kecil, tapi bagaimana apabila anak-anak itu bermain dan membuat keributan di dalam mesjid yang sedang berlangsung ibadah sholat jum'at, itu terjadi jum'at tadi saat saya menjalankan ibadah sholat jum'at, banyak anak-anak yang bermain dengan suara keras sampai mengalahkan suara khotib yang sedang ceramah di masjid, alhasil jum'atan tadipun tidak khusuk dan lebih mendengarkan suara-suara bising anak kecil yang sedang bermain. 

Sebenarnya niatan dari para orang tua yang menyertakan anak-anaknya ke mesjid untuk ikut beribadah itu memang sudah menjadi kewajiban para orang tuanya untuk mengenalkan agama kepada anak-anaknya sedini mungkin, tapi kalau hanya mengajaknya ke mesjid tanpa diberi pemahaman akhirnya anak-anak bukan ikut beribadah yang ada malah seperti kejadian tadi saat saya sholat jum'at, berisik dan sangat menggangu. Hampir saja saya gelap mata dan ingin meng aspal anak-anak itu, karena sangat jengkel dengan suara anak-anak yang sangat mengganggu.

Namun sayakan anak buahnya aagim yang budiman jadinya sadar dan ingat bahwa bagaimanapun mereka tetap anak-anak yang masih polos, Namun dari kejadian tadi siang saya dapat sedikitnya memahami bahwa orang-orang yang nekat membunuh anak-anak itu mungkin selain keterrbatasan ekonomi yang akhirnya harus menculik kemudian meminta tebusan namun tidak kunjung dikasih dan akhirnya dibunuh, ada juga yang memang karena jengkel seperti saya yang juga tidak terlalu menyukai anak-anak nekat membunuh dengan cara yang mereka kehendaki. Demikianlah, saya harapakan kepada setiap orang tua yang mempunyai anak-anak yang nakal agar segera menjinakan anak-anaknya sebelum nanti mereka saya jadikan aspal jalan. 


Bandung, saat emosi sedang memuncak hayang ngadahar budak letik. - See more at: http://nasmi7.blogspot.com/2013/02/lucu-ga-lucu-anak-kecil-tetap.html#sthash.BZdXVybe.dpuf

Zaman Purba #I

Itu aku lupa harinya, yang pasti ada teman-temanku Moci,zaki,M, dan yang lainnya terlalu banyak kalau disebutkan satu-satu nanti malah kaya ngabsen, aku bersama teman-temanku berkumpul di sebuah ruangan persegi kotak tempatnya lumayan luas dan banyak orang yang lalu lalang, mencari dosennya yang hilang, tapi aku tidak seperti mereka yang sibuk mencari, aku duduk di kursi sambil terus menghisap rokok yang mulai hampir habis,

Moci : mi ges weh mnh nya, sok kalem barudak mah da pasti ngabantuan" 
M : heeh mi kalem weh "ikut nimbrung" 
Aku : ah ke weh dipikiran hela, urang teu bisa nanaon euy,

Percakapan dengan bahasa yang mau dilburkna dari sekolah itu terus berlanjut, yang intinya mereka memkasaku untuk menjadi " presma" ah kalian mungkin tidak tau apa itu " presma" nanti aku jelasin belakang. Hampir bebera jam kami habiskan waktu untuk membahas itu, namun aku terus menolak karena aku ga bisa apa-apa selain tidur nongkrong dan maen pecs.

di poskan saat belum merdeka
 - See more at: http://nasmi7.blogspot.com/2013/02/pra-merdeka-1.html#sthash.BFvWdN6P.dpuf

Zaman Purba #II

 
ahh, lagi aku lupa harinya, yang pasti masih tahun 2012 akhir, melanjutka percakapan di babak pertama kalian masih bingung dengan kata "Presma" apa itu "Presma"?? mungkin Google juga masih bingung dan sedang sibuk mencarikannya untuk kalian, tapi tenang saja aku dengan baik hati akan menjelaskan apa itu "Presma". yahh ayo kita mulai........ Presiden Mahasiswa adalah singkatan dari Presma, Presiden Mahasiswa adalah orang no 1 orang yang beratanggung jawab atas semua mahasiswa yang lainnya, atau masyarakatnya. mungkin dikampus-kampus lain biasa di sebut dengan ketum disingkat ketua umum , atau kalau di SMA disebutnya Ketua Osis kalau di TK dulu di sebutnya "Jeger" ka 1, yah kurang lebih begitu. 

Jadi sekarang apa yang menjadi masalahnya?? sudahlah panjang ceritanya rokokku pun hampir habis, di singkat saja akhirnya akupun terpilih menjadi "Presiden Mahasiswa prodi ilmu komunikasi Jurnalistik" dengan tugas pertamanya yaitu aku menetukan siapa saja yang akan menjadi patnerku nantinya, dan pilihanku jatuh kepada seorang wanita bernama Rifani, biasanya sih di panggih mamih, kalian sudah tahu yah kenapa dia mendapat nama panggilan mamih?? oh syukurlah kalau sudah pada tahu, jadi aku tidak perlu sibuk menjelaskan. mamih itu aku berikan kepercayaan menjadi orang no 2 dengan jabatan sebagai "sekum" disingkat menjadi "sekertaris umum" tugasnya sudah jelas membantu aku dalam semua hal, dan adalagi satu orang yang menjadi patnerku namanya Agina dia adalah orang pilihan mamih, mungkin kalian bertanya-tanya kenapa bukan aku yang memilihnya, karena aku sibuk, sibuk malas.mamih yang menyakinkan aku kalau agina mampu menjadi patner dalam menjalankan organisasi ini. akhirnya aku putuskan untuk memberikan kursi no 3 itu untuknya, dengan jabatan "bendum" disingkat menjadi bendahara umum, tugasnya, sudah jelas mengatur keuangan negaraku ini yang sangat kaya raya dan merdeka. 

 Pondok Putih Sambil Bingung Mencari Rokok dan hujan, tapi diluar - See more at: http://nasmi7.blogspot.com/2013/02/pramredeka-1.html#sthash.OHGI10Cg.dpuf

Ini Pekat

 
Ini sih cuma iseng-iseng ga berhadiahpun ga masalah tapi ini ada temanku yang pernah aku singgung kemarin. Ah pasti lupa, dia adalah musuh bersama namanya Pekat, dia adalah orang paling menyebalkan dari yang pernah ada, tidak hanya aku yang dibuatnya pusing tapi hampir semua orang yang mengenalnya maupun yang tidak. Dan kali ini aku mau bahas satu saja, yaitu masalah “Super” yang membuat aku hampir muntah.
 Suatu hari disebuah ruangan berukuran secukupnya aku lupa ga ngukur luas kamarku nanti aku tanyakan sama ibu kos yang cerewet. Saati itu ada aku, moci, ocol dan gagap kami sedang asik sendiri-sendiri karena memang begitu biasanya. Kami sepakat untuk membeli sebungkus rokok garpit, ocolpun meluncur untuk membeli rokok, ketika ocol datang dia membawa seorang anak hitam juga menyebalkan, dia adalah pekat, ketika dia masuk kamarku, semua yang di dalam kamar menghela nafas, huhh ahhh aya si pekat euy, ujar moci.

Masuklah mereka ke dalam kamarku dan mulai kembali kepada pekerjaannya masing-masing, ada yang sedang asyik tiduran, ada juga yang menonton tv dan aku sedang mengetik sms. Tiba-tiba si pekat mulai membuat ulah dengan membawa remote tv, kemudian menggantikan saluran tv yang sedang di tonton oleh moci, seketika moci bereaksi, “ ehh sia pekat cicing atuh maen pindahkeun wae” aku mulai berkata dalam hati “ini pasti berujung ricuh dan perang akan segera dimulai”, tak lama aku berkata dalam hati, ternyata benar saja si pekat kembali membuat ulah dengan pergi keluar mungkin untuk membeli sebatang rokok “super”. Tak lama dia masuk lagi kamarku dan benar saja membawa rokok “super” itu ah aku langsung berkata, “eta sia pekat tong ngaroko “super” dikamar urang”.

Dan tidak hanya aku yang mengataka itu, gagap dan moci pun sama mengatakan hal yang sama namun tidak dalam waktu yang sama karena nanti dibilangnya janjian. Ah benar saja dia itu sangat menyebalkn untuk yang kedua kalinya dia menggatikan saluran tv yang sedang kita tonton, dengan gayanya yang sama menyebalkan dia berkata seenaknya dan ga pernah nyambung kalau ngobrol. Dengan menyender ke tembok sambil menggoyang-goyangkan kakinya sambil terus menghisap rokok “super”nya itu, ah aku semakin ga kuat dengan bau asapnya, kepalaku hampir migren dan perutku terasa mual, dia dengan dingin terus saja menghisap rokoknya itu, dasar manusia yang menyebalkan dan tidak punya rasa empati masa tuan rumahnya di buat ga nyaman, mau di usir juga percuma dia ga akan pergi. 

Pondok putih Sambil ngatain si pekat - See more at: http://nasmi7.blogspot.com/2013/02/pekatsuper-menyebalkan-seson-1.html#sthash.psPcFthe.dpuf

Kampanye Cagub Bukan Suara Rakyat

 
Hampir setiap hari, semua media lokal maupun nasional merekam semua kagitan kampanye yang dilakukan oleh para bapak-bapak dan ibu-ibu calon Gubernur Jawa Barat. Semuanya berlomba-lomba dengan segala cara, dari mulai datang ke pelosok-pelosok desa terpencil untuk mendengarkan suara-suara rakyat sambil membagikan semacam kartu-kartu sakti dengan bermacam atribut, dengan harapan warga Jawa Barat dapat memilih dirinya untuk mejadi pemimpin mereka nantinya. 

Sebenarnya pernahkah diantara bapak-bapak dan ibu-ibu tanpa atribut macam-macam bersedia turun ke pelosok-pelosok desa terpencil bukan hanya dalam momen kampaye, dan merasakan hidup bersama rakyat seminggu saja? Mungkin hanya dengan cara demikian, kita bisa merasakan apa yang sesungguhnya di rasakan rakyat dan apa sesungguhnya yang mereka inginkan. 

Kalau tidak, bagaimana mungkin bapak-bapak dan ibu-ibu bisa mengatakan, kalau apa yang bapak-bapak dan ibu-ibu katakan setiap hari di media cetak ataupun di televisi merupakan suara aspirasi rakyat? Mungkin juga diantara bapak-bapak dan ibu-ibu ada yang pernah bahkan sering untuk mengunjungi pelosok-pelosok desa terpencil, syukurlah kalaupun pernah pergi ke pelosok-pelosok desa terpencil, dengan segala macam kemegahan penyambutan, paling lama hanya satu atau dua jam berada disitu, kemudian kembali ke kota-kota untuk bermalam.

Bukankah disanapun bapak-bapak atau ibu-ibu lebih banyak memberi petuah ketimbang mendengarkan suara hati nurani rakyat. Sebenarnya apa peduli rakyat tentang kampanye para calon Gubernur Jawa Barat sekarang ini? mungkin orang-orang di desa-desa seperti petani-petani atau nelayan-nelayan bingung bahkan menganggap kampaye yang dilakukan bapak-bapak dan ibu-ibu itu hanya pencitraan supaya nantinya mereka bisa memilih bapak-bapak dan ibu-ibu untuk menjadi Gubernur Jawa Barat.

Selain itu, ada atau tidaknya bapak-bapak dan ibu-ibu di desa-desa tidak terlalu berpengaruh dengan kehidupan mereka. Rakyat semacam itu benar-benar tidak tahu, kenapa bapak-bapak dan ibu-ibu atau kelompok –kelompok lainnya harus ada yang pro dan kontra. Mereka sungguh-sungguh tidak mengerti, kenapa pula sekelompok yang pro dan yang kontra harus berkelahi beradu fisik atau berkejar-kejaran seperti yang mereka saksikan di televisi. Begitupun dengan rakyat yang tinggal di kota-kota, sebenarnya mereka juga tidak perduli apakah kampanye para calon Gubernur ini perlu atau tidak, dan kenapa semua orang pintar harus berdebat tentang ini.

Mereka hanya merasakan efek dari semua ini, kehidupan mereka yang sudah pahit bertambah pahit lagi karena pulang bekerja terjebak lalu lintas macet karena banyaknya antrian kendaraan yang sedang kampanye. Pernahkah bapak-bapak dan ibu-ibu, membayangkan nasib orang-orang kecil yang pekan lalu harus mengantarkan anaknya ke rumah sakit, atau istrinya yang hendak melahirkan menjadi terhalang karena lalu lintas macet akibat berbagai keriuahan kampanye para calon Gubernur.

Yang mereka masih ingat di setiap kampanye bapak-bapak dan ibu-ibu dari kota datang ke kampung-kampung membagi-bagikan bermacam-macam atribut, hingga mereka merelakan waktu mereka untuk mencari nafkah, mereka rela bergotong royong untuk mendirikan panggung untuk berpidato, dan yang sering bapak-bapak dan ibu-ibu katakan dalam kampanye-kampanye itu, bapak-bapak dan ibu-ibu mengumbar seribu janji bahwa jalan-jalan dikampung mereka akan di aspali, anak-anak mereka akan di sekolahkan gratis, dan bila ke rumah sakit tidak akan bayar, yang semuanya selalu bapak-bapak dan ibu-ibu lupakan sesusai pemilu dan entah kapan akan pernah mereka akan mersakan hal itu. Sebenarnya rakyat tidak memikirkan benar siapa yang harus menjadi gubernur atau walikota pada waktu yang akan datang, mereka juga tidak peduli apakah Gubernur mendatang itu Ahmad Heryawan, Dede Yusuf, Rieke Diah Pitaloka atau yang lainnya yang semua nama besar itu jauh di awang-awang mereka, mereka juga tidak tahu persis kelebihan dan kekurangan tokoh-tokoh tersebut Karena itu pula bagi mereka siapa saja boleh menjadi Gubernur hanya dengan harapan Guberbur mendatang lebih bisa mensejahterakan kehidupan tidak hanya rakyat di kota tapi juga sampai ke desa-desa mereka.

Jadi apa yang sebenarnya rakyat harapkan? Sangat sederhana se sederhana kehidupan mereka sehari-hari mereka hanya berharap siapa pun yang nantinya akan memerintah kehidupan mereka tidak lebih buruk dari yang sudah-sudah dan syukur-syukur bisa lebih baik walau mereka tidak yakin benar.

Yang mereka harapkan, pemerintah benar-benar bisa memberi subsidiuntuk usaha-usaha kecil atau petani-petani di dea-desa kecil, selain itu hasil panen dapat dibeli dengan harga yang layak dan kebutuhan sembako terjangkau dengan daya beli mereka, yang mereka harapkan aparat keamanan benar-benar menjaga keamanan mereka dari pencurian baik hasil pertanian maupun harta mereka yang tidak banyak, dan bukan mencari-cari kesalahan mereka atau memungut uang dari mereka, yang mereka harapkan pejabat daerah di desa-desa benar-benar membantu dan bukan membuat bingun merekan atau bahkan memberatkan warga, yang mereka harapkan kalau pemerintah tidak membantu mereka dengan mengaspal jalan-jalan di desa-desa, rumah sakit gratis untuk warga tidak mampu ataupun sekolah gratis, cukuplah jika rumah dan halaman serta ladang pertanian mereka tak suatu waktu di gusur untuk proyek raksasa dari pusat atau pemerintah daerah sehingga kehidupan mereka tidak bertambah pahit. 

 Kosan Pondok Putih-Lima,Februari,2013 - See more at: http://nasmi7.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html#sthash.WXF80J8O.dpuf

CAK MUNIR

 
Kalian pernah mendengar orang Malang bernama Munir? Ya memang banyak orang Malang yang bernama Munir, yang saya maksud adalah Munir Said Bin Thalib, atau biasa dipanggil cak munir. Belum selesai saya membaca kisahnya yang ditulis oleh Meicky Shoreamanis Panggabean, dan saya langsung mulai terkagum-kagum dengan perjuangannya untuk menegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di negeri ini. saya jadi ingat pertanyaan penulis buku ini yang menanyakan “kenapa orang baik hidupnya sebentar, sementara orang jahat diberi umur panjang” memang bagitu adanya, bukan hanya Munir yang meningal di usia muda, ada Soe Hok Gie, dia juga aktifis yang mati muda. Munir adalah seorang aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang pada zaman itu pro-Soeharto, dia mengaku sangat militan. Soeharto dalam arti kemapanan, bukan Soeharto sebagai pribadi. 

Munir lahir dari keluarga yang bukan aktifis, melainkan dari keluarga pedagang. Ibunya seorang perempuan Arab tradisional yang hidup disektor domestic, yang banyak menghabiskan waktu untuk anak dengan tingkat pendidikan yang terbatas, ibunya punya intepretasi terhadap semua hal yang terjadi dilingkungan maupun diluar. Interpretasi itu mengacu kepada sebuah nilai yang banyak mempengaruhi munir kala itu, ketika tahun 77, ada penyerangan terhadap etnis Cina di Jawa termasuk di Malang, ibunya protes-protes dan itu sangat berpengaruh terhadap pemikiran Munir. Saat munir menginjak kelas satu SMP dirinya sudah dikenalkan dengan hukum, polisi dan pembunuhan.

Munir menyaksikan seorang ibu-ibu yang tinggal tidak jauh dengan rumahnya, yang dianggap tidak waras oleh tetangga-tetangganya, munir bersama adiknya melihat seorang ibu itu terbaring dengan bersimpah darah, dengan luka tusukan obeng di perutnya, melihat kejadian itu Munir langsung lari dan menceritakan kepada kakanya dan atas saran kakanya munir melaporkan kejadian itu kepada polisi. Munir kecil adalah Munir yang nakal dan tidak terlalu pintar dibangku sekolah, Munir kecil adalah seorang anak laki-laki yang nakal dan suka berantem, bahkan Munir sering di keroyok karena kebiasaannya membela temannya yang ditindas, sejak kecil sudah tidak suka penindasan dan ketidak adilan maka dirinya sering berantem karena hal itu. Dirinya kritis terhadap apa yang dirinya lihat saat itu. Sampai pada tahun 88-89 munir menjadi seorang mahasiswa smester 5 yang mulai tertarik dengan Hak Asasi Manusia (HAM), Munir menganggap (HAM) sebagai sikap instrument yang diperjuangkan dan yang diyakininya, karena munir memang sejak kecil sudah tidak respect terhadap penindasan.

Puncaknya saat munir menginjak smester akhir dirinya mengangkat buruh dalam penelitian untuk skirpsinya, hingga hari-hari selalu dihabiskan bersama buruh-buruh, dan mulai saat itu munir semakin mengenal kehidupan buruh, sampai munir ikut buruh yang melakukan aksi mogok kerja, munir meyaksikan buruh-buruh itu ditangap. Perjuangan munir dalam menegakan Hak Asasi Manusia (HAM) dimulai saati dirinya pindah ke Jakarta, dirinya menemui banyak ketidak adilan dan militerisme yang terjadi dan melihat hal itu munir semakin tidak bisa membiarkannya dirinya bertekad untuk memperjuangkan hak-hak sebagai manusia, dalam perjalanannya munir mulai bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Dari saat itu munir semakin gencar sebagai aktifis yang memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan semakin banyak juga orang, golongan yang tidak suka terhadap apa yang dilakukan oleh munir, munir mulai mendapatkan teror-teror, rumahnya hendak di bom, ditodong dengan senjata di dada sampai motornya pernah diserempet mobil tidak dikenal.

Munir adalah orang yang berpendirian teguh dan mempunyai prinsip, dirinya tidak kalah dengan terror dan acaman, munir tetap dengan perjuangannya hingga akhirnya munir diracun arsenic dengan dosis yang bisa membunuh 3 nyawa sekaligus, disebuah kabin pesawat maskapai milik negeri sendiri 7 september 2004. Munir kini tinggal sejarah, satu dari sekian banyak orang yang kritis terhadap ketidakadilan dan akhirnya harus dibunuh dengan cara yang keji, banyak pengalaman dan ilmu yang patut diambil dan menjadi bahan untuk kita generasi muda meneruskan perjuangan untuk negeri ini.

Pondok Putih-Duabelas,April2013-Sambil nunggu nambah umur - See more at: http://nasmi7.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_13.html#sthash.mti2ZtOk.dpuf

Kemerosotan Kualitas “Kelakuan” Mahasiswa

Dalam pembangunan bangsa, pendidikan baik formal maupun non formal,memiliki peranan paling penting untuk membentuk bibitbibit manusia unggul. Atau lazim disebut sumber daya manusia yang berkualitas. Sebagai generasi harapan bangsa, mahasiswa atau sering disebut makhluk berpendidikan dihadapkan pada realita agar menjadi bagian yang harus membopong perubahan ke arah yang lebih baik. Idealnya, mahasiswa harus sudah termasuk kedalam “kuantum” manusia yang berkualitas. Bila merekam jejak sejarah perjuangan seorang mahasiswa seperti Soe Hok Gie, Arief Rahman Hakim, dan lainnya, tertancap sosok aktivis mahasiswa yang berpendirian teguh dalam memegang prinsip, dan bercitacita besar.

Mereka beraksi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga kepentingan orang banyak, terutama kaum terpinggirkan. Mereka berhasil menjadi salah satu bagian mahasiswa berkualitas. Dengan segala curahan buah pikir, keringat, dan pengorbanannya, menjadikan “rujukan” mahasiswa melanjutkan gerakan peubah tersebut. Bila berbicara sejarah mahasiswa, dari sebelum Indonesia merdeka hingga terakhir tahun 1998 pasca runtuhnya rezim orde baru, sepanjang masa itu, ingatan kita akan terperanjat pada sebuah pergolakan raksasa akibat gerakan ribuan mahasiswa. Dari berbagai pelosok negeri zamrud khatulistiwa ini, mereka semua bersatu danbenar-benar mengedepankan kepentingan rakyat banyak.

Bahkan, tidak sedikit darimereka yang meninggal dunia akibat aksi yang dilakukannya demi melawan ketidak adilandi bawah kuasa rezim kala itu. Alhasil, saking berkualitasnya mahasiswa, jabatan Presiden Republik Indonesia (RI) yang telah disandang Suharto selama 32 tahun lamanya itu pun bisa mereka tumbangkan. Tapi, lihatlah saat ini, hari ini,detik ini, pergerakan mahasiswa mengalami kemerosotan yang begitu kentara. Jangankan meneriakkan keadilan, mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya pun belum tentu. Bahkan bisa saja, tahu permasalahannya sendiri puntidak. Mahasiswa memilih bungkam. Menyadari terdapat berbagai kebobrokan moral dan nilai di sekitarnya, tapi berpikir, itu bukanlah tanggung jawab mereka. Yang pada ujungnya, menjadikan mereka sosok yang apatis. Mahasiswa sudah dibuat nyaman dengan segala sesuatu yang serba instan. Apa peduli mereka terhadap para pejabat pemerintah negeri ini yang korupsi? Mereka hanya sibuk dengan kehidupannya sehari-hari. Sibuk dengan tumpukan buku-buku, bangku kuliah, dan kepentingan pribadi. Sibuk berkutat memikirkan bagaimana cara agar cepat lulus “tanpa belajar”, dan berharap mendapat pekerjaan yang layak dikemudian hari. Sibuk memikirkan penampilan, dan gaya hidup hedonis, sementara di sekitarnya masih banyak kelaparan, kebodohan, dan kemelaratan. Memang ada dari sebagian mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat kecil, memperjuangkan hak rakyat.

Tapi sayangnya, nyatanya mahasiswa tersebut hanya ingin memenuhi kepentingan pribadi dan atau warna golongan tertentu. Baku hantam, bakar ban, blokade akses jalan, seolah itu semua yang mereka dapat di bangku kuliah. Masyarakat bukannya merasa aman dan terbantu dengan adanya mahasiswa, tapi justru merasa semakin resah dengan “kelakuan” mahasiswa yang tidak mencerminkan kaum intelektual. Apakah ini yang disebut maha-siswa? Mahasiswa kian tak peduli dengan apa yang menjadi tugas utamanya, agar menjadi seorang cahaya pertama yang memberikan penerangan bagi masyarakat.

 Mahasiswa sudah lupa dengan tugasnya sebagai agent of change. Sebenarnya, apakah mahasiswa sekarang sudah pantas disebut sebagai agent of change, social control, dan iron stock? Ketika “jati diri mahasiswa” seolah telah mati, tidak peka, dan seakan menutup matadan telinga menyaksikan berbagai masalah sosial yang membuncah. Tapi untunglah, citra mahasiswa tidak seburuk yang dibayangkan. Masih bisa kita jumpai mahasiswa yang tetap memegang teguh “jati diri” dan tetap menjalankan tugasnya sebagai agentof change. Lalu, sebagai mahasiswa, apa yang harus kita lakukan melihat kondisi “mahasiswa” saat ini yang memperihatinkan. Apakah kita termasuk ke dalam mahasiswa yang lupa akan tugasnya, atau tidak? Tidak ada alasan untuk mencoba melarikan diri dari kenyataan ini. Kita harus hadapi, berani ambil tantangan, dan berani menjadi agent of change yang bisa merubah kultur mahasiswa yang “taksemestinya”.

 Mulailah dari sekarang menjadi mahasiswa aktif, peduli sesama, berbaur dengan masyarakat, serta membudayakan diskusi. Dengan seperti itu, semoga saja, mahasiswa benar-benar pantas menerima mahkota gelar generasi harapan bangsa, dan menjadi cahaya penerang bagi kegelapan yang ada.

Tarogong-Duapuluh,Maret2013-Tengah malam - See more at: http://nasmi7.blogspot.com/2013/04/kemerosotan-kualitas-kelakuan-mahasiswa.html#sthash.3Ch0QA5h.dpuf